Begini Rasanya Mendaki TNGGP via Gunung Putri

IMG_7751

Pulang dari Gunung Panapandayan kemarin teman seperjalanan ngajakin lagi untuk naik ke Gunung Gede Pangrango, katanya mereka buka kesana. Cukup deg-degan sebenarnya, agak  mundur maju  untuk menerima ikut atau tidak, mengingat Gunung Gede Pangrango akan menjadi Taman Nasional pertama saya yang dimana memiliki kerapatan pohon yang tinggi, dan basah! Hahaha selain itu juga mengingat Bogor masih rutin turun hujan yang Intens.

Karena rasa penasaran yang melebihi ketakutan saya, rasa percaya saya terhadap tim dan teman-teman yang akan membawa saya akhirnya saya mengiyakan. Eh dapet bonus pas technical meeting kalo kita akan jalan malam hari!! dan menggunakan jalur Gunung Putri! Jeng-jeng!!

Ihiiy double deg-degan-nya, double juga keseruannya pasti,  singkat cerita setelah saya mengumpulkan semua kelengkapan yang ada di list, berangkatlah saya menuju meeting point di Ciawi, Bogor. Sekitar jam 10 kita briefing sebentar dan jalan menuju Cipanas menggunakan mobil Colt sewaan.

Katanya sih kalo naik angkot kita berhenti di depan Istana Cipanas dan nanti ada angkot yang mengantar kita sampai ke jalur pendakian, karena jika kita tidak menggunakan angkot dari situ atau menggunakan angkot sewaan lain dari bawah nantinya kita suka ditarikin jatah preman lagi sama tukang ojek pangkalan (saya juga diminta pada saat itu, tapi entah bagaimana supir Colt saya berargumentasi dan akhirnya jalan terus).

Kita sampai di titik yang pertama, banyak rumah-rumah penduduk yang membuka warung dan dapat kita gunakan untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Karena kita sampai sekitar pukul 12.30 kita memutuskan beristirahat di salah satu warung dan melanjutkan perjalanan sekitar pukul 2.30 pagi, menuju pos pemeriksaan satu  (1400 mdpl) perjalanan sekitar 10 menit menanjak melewati sawah dan perkebunan warga. Di pos satu ini simaksi dan ktp kita diperiksa, di pos ini  juga kita diberi beberapa wejangan tentang bersikap di  hutan.

Legok peucang

Setelah dari pos pemeriksaan kami lanjut perjalanan, beruntung udara cerah sinar bulan terang, lama-lama perkebunan penduduk mulai menghilang dan jalanan terjal mulai terlihat seolah mengucapkan selamat datang, akhirnya kami sampai di gerbang selamat datang atau dikenal dengan Legok Peucang perjalanan dari pos pemeriksaan sampai kesini sekitar 1 jam, disini kami menyempatkan diri untuk sholat subuh terlebih dahulu. Baju sudah cukup basah oleh keringat, membuat saya merasa kedinginan.

Istirahat sekitar 45 menit kami memutuskan untuk kembali jalan, dan perjuangan pun dimulai, seiring dengan matahari yang mulai muncul, bahagia karena saya fikir udara akan semakin menghangat ternyata tidak pengaruh banyak, canopi yang lebat menghalangi matahari untuk masuk.

Buntut Lutung

Sekitar 2 jam berjalan kita sampai di pos Buntut Lutung cukup lah untuk rehat sejenak dan menyenderkan caril yang menyiksa ini. Belajar dari pegalaman sebelumnya saya tidak berhenti terlalu lama agar tidak kedinginan lagi. Samapi sejauh ini semua masih bisa teratasi dan rasa optimism masih tinggi. Semangat!

Lawang sekateng

Nahh perjalana mulai terasa beraaat sekali, satu-satu peserta mulai tumbang,ada yang sakit, ada yang kram, ritme istirahat juga jadi semakin intents dan lama. Membuat kita terbagi kedalam beberapa tim pendakian. Disini tracknya dipenuhi akar-akar pohon, batu-batuan ada beberapa pohon tumbang juga.  Dari Buntut Lutung ke Lawang Seketeng dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam, di jalur Gunung Putri ini tidak terdapat sumber mata air jadi benar-benar harus menghitung persediaan air kita, sayangnya di fase ini air minum saya sudah tinggal setengah  botol lebih sedikit. Kalo ga salah di Lawang Seketeng ini ada warung kecil yang menyediakan minuman hangat dan gorengan (saya lupa posisi warung yang pertama ini, tapi di warung ini ada space yang cukup besar untuk beristirahat atau bila ingin membuka tenda)

Satu lagi di fase-fase ini sudah sangat berat rasanya, dan sudah mulai ketemu orang-orang yang arah turun. Jangan sekali-sekali nanya maih jauh atau sudah deket ya karena menurut pengalaman jawabannya PHP saja…. Sudah deket katanya tapi kita ga sampai-sampai ….

Simpang Maleber

Sebenarnya bila sudah sampai Simpang Malebar ini jaraknya sudah tidak terlalu jauh, terlihat dari pohon-pohon yang sudah tidak terlalu tinggi, sinar matahari mulai masuk. Di simpang malebar ini juga da warung sebelah kiri, isi jualananya relatif sama minuman hangat, gorengan dan pop mie. Pada fase ini persedian minum saya yang sudah habis jadi langsung beli aqua botol  seharga 10.000 mahal tapi rasanya enaaak sekai hahahahaha dan the manis panas seharga 5000 rupiah. Dan terjadi lagi karena memang sehabis ini tinggal 4 tanjakan lagi kita sampai di alun-alun suryakencana timur, terkenal dengan tanjakan batu (tanjakannya disusun dari batu-batu kali hitam) kita menunggu teman-teman yang tertinggal dibelakang saya terserang rasa dingin yang luaaar biasa. Teh manis panas itu ternyata tidak cukup membatu, akhirnya kami jalan kembali dengan tim yang ada dan janjian menunggu di surya kencana timur.

IMG_7520
tanjakan batu…

Suryakencana Timur

IMG_7649
alun-alun suryakencana timur

Yeeeyyy akhirnya setelah empat tanjakan batu yang luar biasa kece kita sampai dijalan yang datar dan selamat datang  di alun-alun Suryakencana Timur… bahagianya melihat matahari yang bersinar terang menyapa kami tanpa adanya tanjakan lagi….

Sekitar 15 menit saya menikmati matahari yang hangat (jam 12 siang padahal… jangan heran kalo saya pulang-pulang jadi ireng) menyapa sambil beristirahat menunggu teman yang akhirnya datang. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan dengan santai sambil berbincang, diiringi angin sepoy-sepoy, kabut yang datang dan pergi, pendaki-pendaki lain menuju alun-alun suryakencana barat dimana teman kami memasang tenda.

Sampai di lokasi tenda kami berdiri bahagia rasanya bisa melempar tas carril yang makin lama rasanya makin berat hahahah luar biasa pokoknya rasanya.

Tidak lama kami menyiapkan makan siang dan setelah beres-beres kami berencana mau naik ke puncak yang tinggal 45 menit perjalanan, tapi rencana tinggal rencana ga ada yang sanggup naik lagi, lemah lunglai letih semua….

Jadi besok pagi saja kita lanjutkan mucaknya, begitu juga dengan tulisan kali ini, next kita kan bahas soal puncak dan kenapa pulang lewat jalur cibodas, lalu lebih enak mana jalur cibodas atau jalur gunung Putri… see you soon ya

 

Selamat Mendaki temanS

Advertisements

Yuk komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s